PSIKOLOGI PERKEMBANGAN 1



PEMBAHASAN
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN 1

A.    Sejarah Perkembangan Anak
Ilmu jiwa perkembangan adalah ilmu jiwa khusus yang membicarakan perkembangan jiwa manusia sejak konsepsi hingga kematian. Sedangkan ilmu jiwa anak adalah bagian dari ilmu jiwa perkembangan yang mempelajari perkembangan anak sejak konsepsi hingga kedewasaan.Dalam membahas ilmu jiwa perkembangan banyak-banyak dibicarakan sejarah ilmu jiwa anak, namun hal-hal lain tidak dapat diabaikan begitu saja.
Dengan gambaran tersebut, maka sejarah perkembangan ilmu jiwa anak dapat dikemukakan secara sederhana sebagai berikut:
·         Abad 17 Johann Amos Comenius (1592-1670)
Comenius merupan seorang ahli pengetahuan, dalam bukunya “DIDACTICA MAGNA” ia berpendapat bahwa “sistem pendidikan yang cocok bagi masa hidup anak yaitu enam tahun pertama”. Dan dalam bukunya yang ke-2 yaitu “ORBIS PICTUS” menekankan bahwa “anak lebih dahulu memahami fakta-fakta objektif daripada yang abstrak”.
·         Abad 18
Pada abad ini timbullah aliran kejiwaan yang disebut Rasionalisme. Penganut aliran ini beranggapan bahwa akal (ratio) adalah sumber kebenaran yang bersumber dari kepercayaan atau tradisi.beberapa tokoh yang membawa cita-cita baru dan yang  menentukan pendidikan pada zaman itu adalah:
Ø  John Locke (1632-1704) (seorang empiris)
John Locke sebagai seorang pendidik, ia sangat menghargai pendidikan jasmani dan mempertahankan pendidikan di rumah. Ia berpendapat bahwa pendidikan anak itu lebih baik diserahkan kepada pendidik di rumah daripada di sekolah, alasannya bahwa pembentukan kepribadian anak itu akan dapat lebih terjamin di rumah daripada di sekolah.
Sistem pendidikan John Locke adalah bersifat individualistic. Ia beranggapan bahwa pendidikan itu tidak punya funsi social. Tujuan pendidikan menurut John Locke adalah menjadikan akan orang yang baik dan berguna dan hidup dalam suasana kebahagian.
Ø  Jean Jacques Rousseau (cita-cita hidup “kembali ke alam”)
Asas pendidikan Jean Jacques Rousseau adalah “Kebebasan”. Anak harus dijauhkan dari pengaruh masyarakat yang buruk, dalam arti bahwa hanya alamlah yang memimpin dan memerintah anak. Jadi tugas pendidik hanyalah terbatas pada penjauhkan segala pengaruh buruk terhadap anak.
Ø  Johan Heindrich Pastalozzi (1786-1827)
Pastalozzi sebagai pendidik, iya menghendaki pendidikan yang berdasarkan “kodrat anak”. Adapun tujuan pendidikannya adalah mengembangkan segala daya kemampuan anak dan dengan dasar itu akan membawa ia ke arah kemanusiaan yang sejati. Dimana tugas pendidik dalam hal ini adalah memberikan pertolongan kepada anak agar ia kelak dapat menolong dirinya sendiri.
Ø  Fredrich Frobel (1782-1852)
Menurut Frobel anak adalah suatu organisme yang tumbuh berkembang dari dalam, karena itulah ia lebih mengutamakan prinsip “kerja sendiri”  daripada prinsip Pestalozzi. Prinsip auto-activated ini pada anak sampai berusia 7 tahun harus diwujudkan dalam bentuk permainan. Karena itulah pendidikan di “kindergarten” itu sangat perlu.
Oleh karena itu Frobel menggunakan permainan sebagai cara untuk mengembangkan pribadi anak. Sebenarnya Frobel lebih merupakan seorang ahli pendidik daripada ahli psikologi anak-anak.
Ø  Dietrich Tiedemann (jerman 1748-1803)
Tiedemann menerbitkan sebuah buku yang berjudul “Beo Bachtungen uber die Entwickling der Seelenfahigkeiten bei Kindern” (pengamatan mengenai perkembangan bakat-bakat kejiwaan anak-anak).
Buku yang diterbitkan itu adalah hasil observasinya tentang perkembangan anaknya sendiri selama masa hidup perkembangan pertama, yaitu sejak lahir sampai umur satu tahun. Beliau adalah pelopor dari metode biografi daripada anak.
·         Perkembangan Anak Pada Abad Ke-19
Masa ini dipandang sebagai masa perkembangan psikologi anak yang ke-2, sebagai lanjutan dari usaha-usaha yang telah dirintis oleh Frobel. Adapun tokoh-tokoh utama dari zaman ini adalah:
Ø  Herbart (1776-1841)
Herbart berpendapat bahwa perasaan dan hasrat sebagai daya jiwa tidak dapat dipisahkan dengan tanggapan. Dari segi pendidikan Herbart mendasarkan pendidikannya pada etika dan ilmu jiwa. Tujuan pendidikannya diambil dari etika (kesusilaan) sedang  alat pendidikannya diambil dari ilmu jiwa, yang teori “Tanggapan Herbart”.
Ø  Wilhelm Preyer (1842-1892)
Preyer melakukan observasinya terhadap anaknya sendiri , dari lahir sampai umur 3 tahun dengan sasaran utama penyelidikannya adalah fungsi-fungsi motorik dan pancaindra. Karenanya dia dianggap sebagai “Bapak Psikologi Anak”.
Ø  Wilhelm Wundt (1983-1920)
Wilhelm Wundt berjasa mengangkat psikologi empiris menjadi ilmu pengetahuan yang otonom, karena itu dia di juluki “Bapak Psikologi Eksperimental”.
Ø  Alfred Binet (1857-1911)
Penyelidikan Binet mengenai kecerdasan anak sehingga banyak member sumbangan bagi kemajuan psikologi anak. Binet berjasa mengembangkan metode testing bagi ukuran kecerdasan anak.
·         Perkembangan Anak Pada Abad ke-20
Abad ke-20 disebut juga abad anak, karena abad ini banyak menyumbangkan penyelidikan terhadap anak dan berpengaruh besar pada pembaharuaan pendidikan secara tidak langsung. Diantaranya tokoh yang banyak berjasa adalah:
1.      Ernest Meumann (1862-1951)
Dia menjadi guru besar di berbagai universitas, seperti di Zurich, Koningsberg dan Humburg.
2.      Alfred Binet (1857-1911)
Sejak tahun 1890 ia sudah menjadi ahli psikologi yang terkenal di Universitas Paris. pada tahun 1905 diterbitkan hasil karyanya yang pertama mengenai tes intelegensi anak, kemudian karya tersebut di sempurnakan bersama dengan Simon pada tahun 1911.
3.      James Mark Boldwin (1864-1934)
Boldwin adalah seorang ahli dalam berbagai bidang ilmu. Karyanya terkenal dengan judul “mental development in the child and the race” (Perkembangan mental dan fisik anak). Pengaruh Boldwin terutama karena hipotesanya tentang “Circular Reaction” artinya beredar, yang menerangkan bahwa proses perkembangan itu sebagai proses imitasi yang berlangsung dengan adaptasi dan seleksi

B.     Pengertian Psikologi di Psikologi Perkembangan
1.      Definisi Psikologi
Psikologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari tentang aktivitas-aktivitas atau gejala-gelaja psikis yang tercermin dalam perilaku manusia dan hewan yang bersifat abstrak atau tidak nyata dan penerapannya dilakukan untuk mengatasi problem-problem yang dialami oleh manusia di dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Definisi Perkembangan
Perkembangan adalah suatu proses perubahan yang bersifat kualitatif, proses yang terjadi pada semua makhluk hidup terutama manusia. Proses perubahan-perubahan dari kematangan dan pengalaman dalam diri seseorang mulai dari lahir sampai meninggal dunia, proses perubahan ke arah yang lebih maju dan lebih dewasa. Yang ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam jangka waktu tertentu.
3.      Definisi dari Psikologi Perkembangan
Pemahaman diri dan lingkungan menghasilkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi kepentingan dan kebutuhan hidup manusia itu sendiri, disamping dapat juga membahayakan eksistensinya. Salah satu cabang ilmu pengetahuan tersebut ialah psikologi perkembangan. Psikologi perkembangan, yaitu cabang psikologi yang khusus mempelajari perkembangan psikis manusia mulai dari masa dalam kandungan (pre-natal) hingga masa lanjut usia.
Menurut Akmal Hawi, Psikologi perkembangan adalah suatu ilmu yang menyelidiki dan membicarakan tentang perkembangan psikis manusia selaras dengan pertumbuhan bio-fisiknya, sejak dari kandungan sampai meninggal dunia.
Menurut Dra. Kartini Kartono di dalam Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh mengatakan bahwa perkembangan adalah suatu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia yang dimulai dengan periode masa bayi, anak bermain, anak sekolah, masa remaja, sampai periode adolesens menjelang dewasa. Sedangkan menurut Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh mengatakan bahwa psikologi perkembangan yaitu suatu cabang dari psikologi yang membahas tentang gejala jiwa seseorang, baik yang menyangkut perkembangan ataupun kemunduran perilaku seseorang sejak masa konsepsi hingga dewasa.
Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan tersebut, kiranya dapat disimpulkan bahwa psikologi perkembangan adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang perkembangan individu sejak dari masa bayi, bahkan sejak pralahir sampai usia tua, baik perkembangan psikis maupun fisik beserta latar belakang yang mempengaruhinya.

C.    Hukum Konvergensi dan Tempo Perkembangan
Ø  Hukum Konvergensi
Pandangan pendidikan tradisional di masa lalu berpendapat bahwa hasil pendidikan yang dicapai anak selalu dihubungkan-hubungkan dengan status pendidikan orang tuanya. Menurut kenyataan yang ada sekarang ternyata bahwa pendapat lama itu tidak sesuai lagi dengan keadaan. Pandangan lama itu dikuasai oleh aliran nativisme yang dipelopori Schopenhauer yang berpendapat bahwa manusia adalah hasil bentukan dari pembawaanya. Pembawaan itu akan berkembang sendiri; dalam hal ini pendidikan tidak mampu untuk mengubahnya. Aliran dalam pendidikan yang menganut paham nativisme ini disebut aliran pesimis.
Abad ke-19 lahir paham empirisme yang berasal dari John Locke. Ia memperkenalkan teori tabularasa yang mengatakan bahwa child born like a sheet of white paper avoid of all aharacters. Ketika anak lahir, ia diumpamakan sebagai kertas buram yang putih, belum ada ditulisi atau digoresi dengan bakat apapun. Jiwanya masi bersih dari pengaruh keturunan sehingga pendidik dapat membentuknya menurut kehendaknya. Aliran ini termasuk aliran optimis.
Ø  Hukum Tempo Perkembangan
Perkembangan anak ada yang cepat (tempo singkat) ada pula yang lambat. Sebagai contoh keterampilan berbicara dan berjalan.

D.    Masa Peka dan Kepribadian
Ø  Masa Peka
Tiap-tiap fungsi jiwa mempunyai waktunya untuk berkembang dengan sebaik-baiknya. Prof. Hugo de Vries (Belanda) memnperkenalkan masa peka ini dalam ilmu biologi. Prof. Hugo meneliti seekorf lebah betina (lebah ratu) yang sedang mengalami masa peka. Masa peka adalah suatu masa ketika fungsi-fungsi jiwa menonjolkan diri keluar, dan peka akan pengaruh rangsangan yang dating. Apabila saat sang ratu peka, kemudian ia mendapatkan zat-zat (makananan) tertentu, ia akan berkembang biak dengan cepat.
Masa peka diperkenalkan dalam dunia pendidikan oleh Dr. Maria Montessori. Menurut M. Montessori (Italia), masa peka merupakan masa pertumbuhan ketika suatu fungsi jiwa mudah sekali dipengaruhi dan dikembangkan. Usia 3-5 tahun adalah masa yang baik sekali untuk mempelajari bahasa ibu dan bahasa daerahnya.
Ø  Kepribadian
Kekuatan tiap-tiap unsur kepribadian tersebut  selalu berubah-ubah setiap saat dan berbeda-beda setiap individu. Karena setiap unsur kepribadian tsb selalu berubah-ubah kekuatannya, maka kesatuan (konvergensi) dari unsur-unsur tersebut integritasnya juga selalu berubah-ubah, mengalami dinamika.
E.     Bertahan Dan Mengembangkan Diri, Irama Perkembangan
Ø  Bertahan dan Mengembangkan Diri
Dalam kehidupan timbul dorongan dan hasrat untuk mempertahankan diri. Dorongan yang pertama adalah dorongan mempertahankan diri, kemudian disusul dengan dorongan mengembangkan diri. Dorongan mempertahankan diri terwujud misalnya : pada dorongan makan dan menjaga keselamatan diri sendiri.
Dorongan yang kedua adalah dorongan mengembangkan diri. Dalam perkembangan jasmani terlihat hasrat dasar untuk mengembangkan pembawaan. Untuk anak-anak dorongan mengembangkan diri berbentuk hasrat mengenal lingkungan, usaha belajar berjalan, kegiatan bermain, dan lain-lain. Dikalangan remaja timbul rasa persaingan dan perasaan belum puas terhadap apa yang telah dicapai. Hal ini dapat dianggap sebagai dorongan mengembangkan diri.
Ø  Hukum Irama Perkembangan
Disamping perkembangan itu mempunyai tempo, juga mempunyai irama masing-masing. Irama berarti variasi atau fluktuasi naik turunnya kecepatan perkembangan individu, baik perkembangan jasmani maupun rohani. Perkembangan anak itu mengalami gelombang “pasang surut”, mulai lahir hingga dewasa, kadangkala anak juga mengalami kemunduran dalam suatu bidang tertentu

F.     Aliran-Aliran Dalam Psikologi Perkembangan
Ø  Faktor Hereditas
Hereditas merupakan faktor pertama yang mempengaruhi perkembangan individu. Dalam hal ini hereditas diartikan sebagai “totalitas” karakteristik individu yang diwariskan orangtua pada anak, atau segala potensi, baik fisik maupun psikis yang dimilki individu sejak masa konsepsi (pembuahan ovum oleh sperma) sebagai pewarisan dari pihak orangtua melalui gen-gen.

Ø  Faktor Lingkungan
lingkungan adalah segala sesuatu yang mengelilingi individu di dalam hidupnya, baik dalam bentuk lingkungan fisik seperti orangtuanya, rumahnya, kawan-kawan yang bermain, masyarakat sekitarnya maupun dalam bentuk lingkungan psikologis.
1.      Nativisme
Nativisme (nativism) adalah sebuah doktrin filosofis yang berpengaruh besar terhadap aliran pemikiran psikologis. Tokoh utama aliran ini bernama Arthur Scopenhauer (1788-1860) seorang filosof Jerman.aliran ini berkeyakinan bahwa perkembangan manusia itu ditentukan oleh pembawaannya, sedangkan pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa yang biasanya disebut pesimis paedagogis.
2.      Empirisme
Kebalikan dari aliran nativisme adalah aliran empirisme (empirism) dengan tokoh utama John Locke (1632-1704). Doktrin aliran empirisme yang amat masyur adalah tabula rasa sebuah istilah bahasa latin yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong (blank slate/blank tablet). Doktrin tabula rasa menekankan arti penting pada pengalaman, lingkungan dan pendidikan.
3.      Konvergensi
Aliran konvergensi (convergence) merupakan gabungan antara aliran empirisme dengan aliran nativisme. Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia.

G.    Teori Perkembangan Sigmund Freud
Sigmund Freud mengemukakan bahwa kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious). Topografi atau peta kesadaran ini dipakai untuk mendiskripsi unsur cermati (awareness) dalan setiap event mental seperti berfikir dan berfantasi. Sampai dengan tahun 1920an, teori tentang konflik kejiwaan hanya melibatkan ketiga unsur kesadaran itu. Baru pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain, yakni id, ego, dan superego. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama, tetapi melengkapi/menyempurnakan gambaran mental terutama dalam fungsi atau tujuannya.
Enam elemen pendukung struktur kepribadian itu adalah sebagai berikut:
1.      Sadar (Conscious)
Tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu. Menurut Freud, hanya sebagian kecil saja Bari kehidupan mental (fikiran, persepsi, perasaan dan ingatan) yang masuk kekesadaran (consciousness). Isi daerah sadar itu merupakan basil proses penyaringan yang diatur oleh stimulus atau cue-eksternal. Isi-isi kesadaran itu hanya bertahan dalam waktu yang singkat di daerah conscious, dan segera tertekan ke daerah perconscious atau unconscious, begitu orang memindah perhatiannya ke we yang lain.
2.      Prasadar (Preconscious)
Disebut juga ingatan siap (available memory), yakni tingkat kesadaran yang menjadi jembatan antara sadar dan taksadar. Isi preconscious berasal dari conscious dan clan unconscious. Pengalaman yang ditinggal oleh perhatian, semula disadari tetapi kemudian tidak lagi dicermati, akan ditekan pindah ke daerah prasadar. Di sisi lain, isi-materi daerah taksadar dapat muncul ke daerah prasadar. Kalau sensor sadar menangkap bahaya yang bisa timbul akibat kemunculan materi tak sadar materi itu akan ditekan kembali ke ketidaksadaran. Materi taksadar yang sudah berada di daerah prasadar itu bisa muncul kesadaran dalam bentuk simbolik, seperti mimpi, lamunan, salah ucap, dan mekanisme pertahanan diri.
3.      Tak Sadar (Unconscious)
Tak sadar adalah bagian yang paling dalam dari struktur kesadaran dan menurut Freud merupakan bagian terpenting dari jiwa manusia. Secara khusus Freud membuktikan bahwa ketidaksadaran bukanlah abstraksi hipotetik tetapi itu adalah kenyataan empirik. Ketidaksadaran itu berisi insting, impuls dan drives yang dibawa dari lahir, dan pengalaman-pengalaman traumatik (biasanya pada masa anak-anak) yang ditekan oleh kesadaran dipindah ke daerah taksadar. Isi atau materi ketidaksadaran itu memiliki kecenderungan kuat untuk bertahan terus dalam ketidaksadaran, pengaruhnya dalam mengatur tingkahlaku sangat kuat namun tetap tidak disadari.
Model perkembangan psikoanalisis dasar, yang terus-menerus dimodifikasi oleh Freud selama 50 tahun terakhir hidupnya, terdiri atas tiga komponen pokok; (1) satu komponen dinamik atau ekonomik yang menggambarkan pikiran manusia sebagai sistem energi yang cair; (2) satu komponen struktural atau topografik berupa sebuah sistem yang memiliki tiga struktur psikologis berbeda tetapi saling berhubungan dalam menghasilkan perilaku; dan (3) satu komponen sekuensial (urutan) atau tahapan yang memastikan langkah maju dari satu tahap perkembangan menuju tahap lainnya, yang terpusat pada daerah-daerah tubuh yang sensitif, tugas-tugas perkembangan, dan konflik-konflik psikologis  tertentu.
Komponen Dinamik (Energi Psikis)
Semangat (atau arah) perkembangan ilmiah dan intelektual pada akhir abad ke-19 terpusat di sekitar kajian tentang energi, dan Freud menerapkan konsep energi tersebut terhadap perilaku manusia. Ia menyebut energi ini sebagai energi psikis (psychic energy atau energy yang mengoperasikan berbagai komponen sistem psikologis.
Komponen Struktural
a)      Id (Das Es)
Id adalah sistem kepribadian yang asli, dibawa sejak lahir. Dari id ini kemudian akan muncul ego dan superego. Saat dilahirkan, id berisi semua aspek psikologik yang diturunkan, seperti insting, impuls dan drives. Id berada dan beroperasi dalam daerah unansdous, mewakili subjektivitas yang tidak pemah disadari sepanjang usia. Id berhubungan erat dengan proses fisik untuk mendapatkan enerji psikis yang digunakan untuk mengoperasikan sistem dari
b)      Ego (Das Ich)
Ego berkembang dari id agar orang mampu menangani realita; sehingga ego beroperasi mengikuti prinsip realita (realityprinciple); usaha memperoleh kepuasan yang dituntut Id dengan mencegah terjadinya tegangan barn atau menunda kenikmatan sampai ditemukan objek yang nyata-nyata dapat memuaskan kebutuhan. Prinsip realita itu dikerjakan metalui proses sekunder (secondaryprocess), yakni berfikir realistik menyusun rencana dan menguji apakah rencana itu menghasilkan objek yang dimaksud. Proses pengujian itu disebut uji realita (reality testin ; melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana yang telah difikirkan secara realistik. Dari cara kerjanya dapat difahami sebagian besar daerah operasi ego berada di kesadaran, namun ada sebagian kecil ego beroperasi di daerah prasadar dan daerah taksadar.
c)      Superego (Das Ueber Ich)
Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi memakai prinsip idealistik (idealisticprinciple) sebagai lawan dari prinsip kepuasan Id dan prinsip realistik dad Ego. Superego berkembang dari ego, dan seperti ego dia tidak mempunyai energi sendiri. Sama dengan ego, superego beroperasi di tiga daerah kesadaran. Namun berbeda dengan ego, dia tidak mempunyai kontak dengan dunia luar (sama dengan Id) sehingga kebutuhan kesempurnaan yang diperjuangkannya tidak realistik (Id tidak realistik dalam memperjuangkan kenikmatan).
d)      Komponen Sekuensial (Tahapan)
Bagian ketiga dan terakhir dari model Freud adalah komponen tahapan atau komponen sekuensial (sequential or stage component). Bagian ini menekankan pola atau gerak maju organisme melalui tahapan-tahapan perkembangan yang berbeda dan semakin lama semakin adaptif. Menurut Freud, pintu pertama menuju kematangan adalah tahapan perkembangan genital, dimana terbentuk hubungan yang berarti berlangsung terus menerus.
e)      Teori Freuds disebut Teori Psikoseksual
Menurut Freud, para bayi terlahir dengan kemampuan untuk merasakan kenikmatan apabila terjadi kontak kulit, dan para bayi itu memiliki semacam ketegangan di permukaan kulit mereka yang perlu diredakan melalui kontak kulit secara langsung dengan orang lain. Freud menyerupakan kenikmatan ini dengan rangsangan seksual tetapi ia memberi catatan bahwa hal ini berbeda secara kualitatif dari tipe rangsangan seksual yang dialami oleh orang dewasa karena kejadian yang dialami bayi ini lebih bersifat umum dan belum terdiferensiasi. Freud (790511959) menyebut kemampuan untuk mengalami kenikmatan ini dan kebutuhan untuk meredakannya dengan nama seksualitas bayi, yang berbeda dari seksualitas orang dewasa.
Implementasi teori Freud dalam Praktik Pendidikan
Berdasarkan konsep kunci dari teori kepribadian freud, berikut ini akan dijelaskan beberapa teorinya yang dapat diimplemetasikan dalam pendidikan, yaitu: Pertama, konsep kunci bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kebutuhan dan keinginan. Dengan demikian, implementasi pandangan Freud dalam pendidikan sangat memberikan kontribusi yang signifikan, terutama memberikan panduan atau acuan pada guru dalam melakukan pembelajaran dan memberikan bimbingan, sehingga bimbingan benar-benar efektif dan sesuai dengan tingkat perkembangan mereka. Adapun fungsi-fungsi bimbingan yang dilakukan oleh guru antara lain:
1)        Memahami Individual Siswa
Seorang guru dan pembimbing dapat memberikan bantuan yang efektif jika mereka dapat memahami dan mengerti persoalan, sifat, kebutuhan, minat, dan kemampuan siswa. Karena itu, bimbingan yang efektif menuntut secara mutlak pemahaman diri anak secara menyeluruh. Karena tujuan bimbingan dan pendidikan dapat dicapai jika programnya didasarkan atas pemahaman diri anak didiknya.
2)        Preventif dan Pengembangan Individual Siswa
Preventif dan pengembangan merupakan dua sisi dari satu mata uang. Preventive berusaha mencegah kemerosotan perkembangan seseorang dan minimal dapat memelihara apa yang telah dicapai dalam perkembangannya melalui pemberian pengaruh-pengaruh yang positif, memberikan bantuan untuk mengembangkan sikap dan pola perilaku yang dapat membantu setiap individu untuk mengembangkan dirinya secara optimal.










PENUTUP

Perkembangan merupakan perubahan yang terus-menerus dialami, tetapi ia tetap menjadi kesatuan. Perkembangan berlangsung dengan perlahan-lahan melalui masa demi masa. Kadang-kadang seoarng mengalami masa krisis pada masa kanak-kanak dan masa pubertas. Menurut hasil penelitian para ahli ternyata bahwa perkembangan jasmani dan rohani berlangsung menurut hukum-hukum perkembangan tertentu. Hukum-hukum perkembangan itu terdiri dari: Hukum Konvergensi; Hukum Tempo Perkembangan; Hukum Irama Perkembangan; Hukum Masa Peka; Hukum Kesatuan Anggota/ Organis; Hukum Rekapitulasi; Hukum Bertahan dan Mengembangkan Diri; dan Hukum Trotzalter (Masa Menentang).
















DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Sholeh, Munawar. 2005. Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT RINEKA CIPTA.

Akyaz Azhari. 2004. Psikologi Umum dan Perkembangan. Jakarta: Teraju PT Mizan Publika.

Desmita, M.Si. 2010. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.

Zulkifli L. 2001. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mohammad Ali dan Mohammad Asrori. 2010. PSIKOLOGI REMAJA Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Bumi Aksara.


Comments

Popular posts from this blog

PANCASILA DAN AGAMA

Negara Hukum Dan HAM (Hak Asasi Manusia)

MAKALAH EKONOMI ISLAM