HAKIKAT PERKEMBANGAN MOTORIK ANAK


1.         Pengertian Pengembangan Fisik Motorik
Motorik sebagai istilah umum untuk berbagai bentuk perilaku gerak manusia. Sedangkan psikomotorik khusus digunakan pada domain mengenai perkembangan manusia yang mencakup gerak manusia. Jadi motorik ruang lingkupnya lebih luas daripada psikomotorik. Meskipun secara umum motorik sinonim digunakan dengan istilah gerak, sebenarnya psikomotorik mengacu pada gerakan-gerakan yang dinamakan alih getaran elektorik dari pusat otot besar.
Perkembangan merupakan istilah umum yang mengacu pada kemajuan dan kemunduran yang terjadi hingga akhir hayat. Pertumbuhan adalah aspek struktural dari perkembangan. Sedangkan kematangan berkaitan dengan perubahan fungsi pada perkembangan. Jadi, perkembangan meliputi semua aspek dari perilaku manusia, dan sebagai hasil hanya dapat dipisahkan kedalam periode usia. Dukungan pertumbuhan terhadap perkembangan sepanjang hidup merupakan sesuatu yang berarti.
Perkembangan motorik adalah suatu perubahan dalam perilaku gerak yang memperlihatkan interaksi dari kematangan makhluk    dan lingkungannya. Pada manusia perkembangan motorik merupakan perubahan kemampuan gerak dari bayi sampai dewasa yang melibatkan berbagai aspek perilaku dan kemampuan gerak. Aspek perilaku dan perkembangan motorik saling mempengeruhi satu sama lainnya.
Perkembangan motorik merupakan sebuah bidang studi. Secara pasti apa yang kita pelajari dalam perkembangan motorik sesungguhnya sesuatu yang masih bersifat kontroversi. Kontroversi ini mulai muncul sejak awal tahun 1974 dimana enam orang ahli dalam bidang perkembangan motorik menemui apa yang disebut dengan menggambarkan fokus penelitian pada perkembangan motorik.
Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan, sekelompok pakar perkembangan       motoric memunculkan sebuah definisi mengenai perkembangan motorik, yaitu: sebagai perubahan dalam perilaku gerak yang mereflekssikan interaksi dari kematangan organisme dan lingkungannya.
Definisi ini diyakini masih melahirkan dua pandangan yang berbeda dimana yang satu kelompok memandang bahwa perkembangan motorik lebih memperhatikan pada gerak yang dihasilkan (movement product). Kelompok lainnya memandang bahwa perkembangan motorik lebih menekankan pada proses gerak (movement process).
Dari berbagai pandangan itu maka muncullah seorang pakar perkembangan motorik yaitu Keogh dalam Payne (1996) yang menjelaskan bahwa perkembangan motorik dapat didefinisikan sebagai perubahan kompetensi atau kemampuan gerak dari mulai masa bayi (infancy) sampai masa dewasa (adulthood) serta melibatkan berbagai aspek perilaku manusia, kemampuan motorik dan aspek perilaku yang ada pada manusia ini mempengaruhi perkembangan motorik dan perkembangan motorik itu sendiri mempengaruhi kemampuan dan perilaku manusia.
Akhirnya, pada tahun 1988 Roberton selanjutnya mengklarifikasi peranan dari para ahli perkembangan motorik melalui penjelasannya bahwa kita berupaya untuk meningkatkan pemahaman dalam tiga hal sebagai berikut:
a.       Kita mencoba untuk memahami perilaku gerak (motor behavior), apamyang terjadi dan mengapa hal itu terjadi.
b.      Kita berusaha untuk mengerti apa perilaku sekarang sama dengan perilaku sebelumnya dan mengapa.
c.       Kita mencari tahu apa perilaku sekarang akan serupa dengan perilaku yang akan datang dan mengapa.

2.         Perbedaan Perkembangan, Kematangan, dan Pertumbuhan
Perkembangan mencakup kedua unsur yaitu; kematangan dan pertumbuhan. Perkembangan merupakan istilah umum yang merujuk pada kemajuan dan kemunduran yang terjadi hingga akhir hayat. Pertumbuhan merupakan aspek structural dari    perkembangan. Sedangkan kematangan berkaitan dengan perubahan fungsi pada perkembangan manusia
a.      Mengukur Pertumbuhan: Anthropometry
Cabang ilmu pertumbuhan manusia dan pengukuran tubuh manusia disebut juga dengan anthropometry. Anthropometry ini mengukur sebagai berikut:
Tinggi badan Berat badan
Panjang bagian-bagian tubuh seperti mengukur langsung panjang betis.
Luas badan (Komposisi badan) seperti tulang, otot, organ, dan jaringan selain daripada lemak.
Keliling badan terdiri dari kepala, leher, pergelangan, tangan, betis, paha, dan panggul.
b.      Mengukur Kematangan
Kematangan adalah kemajuan yang lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif. Mengukur kematangan siswa lebih sering digunakan metode untuk menentukan usia kerangka (skeletal age) dengan sinar x, mengukur kematangan dengan melihat usia gigi, atau dengan melihat ciri-ciri jenis kelamin.
c.      Mengukur Perkembangan Motorik
Karena banyaknya faktor yang mempengaruhi perkembangan motorik seperti proses kelahiran, lingkungan fisik, aktivitas fisik dan latihan secara teratur. Maka untuk mengukur perkembangan motorik ini dapat dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif.
Kita dapat mengukur keterampilan gerak dengan beberapa cara. Namun ada dua metode yang cukup penting dalam menilai keterampilan gerak pada siswa, yaitu metode produk dan metode proses. Metode produk merupakan pendekatan untuk mengukur gerak, hasil akhir, outcome, dan gerak tersebut dianalisis. Contoh, seorang siswa melakukan keterampilan melempar bola, maka hasil lemparan berupa jarak lemparan, cepat tidaknya lemparan, serta akurat tidaknya lemparan. Hasil yang diraih siswa itu dikategorikan sebagai produk keterampilan.
Metode proses merupakan pendekatan yang berorientasi pada proses dan menekankan pada gerak itu sendiri. Ini dimaksudkan sebagai pola gerak atau apa yang sering disebut dengan teknik. Dengan sedikit perbuatan pada teknik gerak. Contoh, anak dengan tangan kanannya mengayun sambil bergerak ke depan dengan melangkahkan kaki kanannya, atau performa sikap menangkap bola. Penelitian yang menggunakan pendekatan yang berorientasi pada proses biasanya memfokuskan pada performa teknik gerak. Seperti anak yang mengupayakan untuk menerima bola secara akurat. Proses merupakan teknik yang digunakan untuk melakukan gerak. Performa anak dalam menangkap bola, pendekatan yang berorientasi pada proses menganalisis anak dalam mengontrol bola.

3.    Prinsip Perkembangan Motorik
Prinsip perkembangan motorik adalah adanya suatu perubahan baik fisik maupun psikis sesuai dengan masa pertumbuhannya. Perkembangan motorik sangat dipengaruhi oleh gizi, status kesehatan, dan perlakuan gerak yang sesuai dengan masa perkembangannya. (Mahendra, Agus. 2006:1.7)
Bagi anak usia dini memperoleh kemampuan untuk bergerak secara berurutan mengalami kemajuan dari mulai gerak sederhana hingga gerak yang lebih komplek dan keterampilan gerak yang terkoordinasi. Proses perkembangan motorik cenderung bersifat terus menerus dari mulai kepala sampai ke kaki.
Jadi, pada prinsipnya rangkaian perkembangan motorik hingga gerak yang tertata sangat bergantung pada faktor kematangan dan integrasi system syaraf dan system kerangka otot. Anak yang mampu mencapai tarap perkembangan motorik yang terkoordinasi sangat ditentukan oleh keadaan dan kemauan individu itu sendiri. Perkembangan motorik biasanya menunjukan pola yang khas. Dimasa-masa awal, kemajuan yang diperoleh biasanya berlangsung pesat, tetapi di masa-masa berikutnya kemajuan hanya bergerak secara bertahap. Ini merupakan gejala umum dalam setiap proses perkembangan motorik, sehingga dijadikan sebuah hukum, yaitu: kemajuan akan berlangsung cepat di masa-masa awal perkembangan motorik dan akan berlangsung lambat pada masa-masa berikutnya.

4.    Nilai-nilai dalam Perkembangan Motorik
Nilai-nilai yang didapat dari perkembangan motorik pada anak sekolah dasar antara lain mendapatkan hal-hal sebagai berikut: (Mahendra, Agus. 2006:1.8)
a.       Pengalaman yang berarti, artinya anak akan memperoleh berbagai pengalaman gerak yang dibutuhkan selama hidupnya dan dapat mendukung terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan dirinya, sehingga pengalaman ini menjadikan anak lebih percaya diri.
b.       Hak dan kesempatan beraktivitas, artinya anak memperoleh kesempatan yang banyak untuk melakukan berbagai aktivitas yang disukainya, sehingga     dapat membantu mempercepat proses pertumbuhan dan perkembangannya.
c.       Keseimbangan jiwa dan raga, artinya proses perkembangan yang sesuai dengan usianya akan melahirkan keseimbangan antara jiwa dan raga, sehingga tidak terjadi kondisi yang berlebih pada salah satunya, misalnya: kemampuan jiwanya yang menonjol atau raganya melainkan keduanya dalam keadaan yang seimbang.
d.       Mampu       berperan menjadi dirinya sendiri, artinya dengan perkembangan motorik yang sesuai dengan masanya anak akan mampu memerankan dirinya sendiri.

5.    Tujuan dan Fungsi Perkembangan Motorik
Tujuan perkembangan motorik adalah mengkaji proses pentahapan kemampuan gerak, apakah kemampuan gerak individu tersebut sudah sesuai dengan masanya. Hal tersebut sangat diperlukan untuk dapat memberi dukungan kuat terhadap terbentuknya kualitas gerak yang proporsional pada usianya. Fungsi perkembangan motorik adalah penguasaan keterampilan yang tergambar dalam kemampuan menyelesaikan tugas gerak tertentu. Kualitas gerak terlihat dari seberapa jauh anak tersebut mampu menampilkan tugas gerak yang diberikan dengan tingkat keberhasilan tertentu. Jika tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas gerak tinggi, berarti gerak yang dilakukannya efektif dan efisien.

6.    Aspek Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik merupakan suatu proses yang terjadi sejalan dengan bertambahnya usia secara   bertahap dan berkesinambungan gerakan pada individu yang meningkat dari keadaan sederhana, tidak terorganisasi, dan tidak terampil ke arah performa gerak yang lebih kompleks dan terorganisasi dengan baik. Oleh karena itu, perkembangan motorik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Dengan perubahan yang demikian pesat dapat dialami oleh individu dalam proses       perkembangannya.
Aspek perkembangan motorik menjadi bagian penting yang perlu mendapatkan perhatian dalam menunjang terbentuknya generasi yang berkualitas. Secara umum aspek perkembangan motorik pada manusia meliputi urutan perkembangan motorik dan sasaran perkembangan motorik.
a.      Urutan Perkembangan Motorik
Menuju kesempurnaan gerak pada manusia sangatlah ditentukan oleh urutan perkembangan yang akan dialami oleh masing-masing individu. Umumnya urutan perkembangan tersebut akan diawali dengan terjadinya suatu proses perkembangan secara anatomis, fisiologis, dan maupun motoris.
1.      Perkembangan Anatomis
Perkembangan anatomis sering ditunjukkan oleh adanya sebuah perubahan kuantitas pada struktur tulang-belulang, proporsi tinggi kepala dan badan secara keseluruhan. Khususnya pada perkembangan motorik anak sering diperlihatkan dengan bertambahnya jumlah tulang-belulang yang berpengaruh pada semakin meningkatnya proporsi tinggi kepala dan berat badan pada individu tersebut. Seiring dengan bertambahnya umur anak maka proporsi itupun akan mengalami perubahan yang tidak sama dibandingkan dengan usia sebelumnya. Umumnya perkembangan yang terjadi bersifat kuantitatif seperti bertambahnya tinggi badan, lebar bahu, pinggul, dada, dan bahkan berat badan yang semua itu akan tumbuh dan berkembang pada masanya. Jadi secara anatomis, perkembangan akan terjadi pada struktur tubuh individu yang berubah secara proporsional seiring dengan bertambahnya usia seseorang. Kendala yang mungkin dialami oleh individu tersebut karena faktor gizi dan perlakuan lingkungan terhadap dirinya. Kondisi ini sering menghambat laju perkembangan yang dialami individu semasa hidupnya. Akibatnya proporsi struktur tubuh menjadi tidak sesuai dengan usianya yang pada akhirnya semua itu akan berimplikasi pada perkembangan aspek lain.
2.      Perkembangan Fisiologis
Sebagai proses perubahan kapasitas fungsional atau kemampuan organ-organ tubuh, maka perkembangan secara fisiologis akan ditandai dengan adanya perubahan secara kuantitatif, kualitatif, dan fungsional dari sistem kerja hayati seperti kontraksi otot, peredaran darah dan pernafasan, persyarafan, produksi kelenjar, dan pencernaan. Pada usia anak-anak otot dapat berfungsi sebagai pengontrol gerak dan denyut jantung frekuensinya sekitar 140 denyut per menit. Seiring dengan bertambahnya usia anak, maka fungsi organ tubuh anak berubah menjadi lebih mantap.
Organ tubuh akan semakin dapat berfungsi sesuai dengan fungsinya masing-masing. Perubahan yang bersifat kuantitatif karena terukur maupun perubahan kualitatif karena sukar diukur menjadi rangkaian faktual yang terjadi selama proses perkembangan pada manusia. Perkembangan ini akan terjadi sejalan dengan bertambahnya usia manusia dan bukan karena proses latihan fisik. Karena tanpa dilatih apapun perkembangan akan terus terjadi. Namun alangkah baiknya perubahan yang terjadi secara fisiologis didukung pula oleh proses pelatihan           yang     teratur   sehingga perkembangannya akan lebih proporsional.
3.      Perkembangan Perilaku Gerak
Perilaku gerak dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: (1) kontrol gerak, (2) pembelajaran gerak, dan (3) perkembangan gerak. Oleh karena itu, pengkajian dalam salah satu dari bidang ini dapat dianggap sebagai penelitian perilaku gerak. Namun demikian, karena masing-masing subdisiplin ini dimulai dengan perkataan gerak, maka perlu diuraikan secara tepat untuk menghindari kesalahan dalam pemaknaannya.
Kontrol gerak adalah kajian faktor-faktor neurologis (syaraf) yang mempengaruhi gerakan manusia. Neurophysiological mengacu pada fungsi tubuh secara spesifik dalam kaitannya dengan sistem syaraf. Sistem syaraf ini sangat penting dalam memproduksi gerakan pada manusia karena sel-sel syaraf (neuron) menstimulasi serat-serat otot untuk memproduksi gerakan yang diinginkan. Penelitian mengenai kontrol gerak mengkaji pertanyaan-pertanyaan dan konsep-konsep dari gerakan dan variabel-variabel neurophysiological yang mendasarinya. Salah satu topik khusus yang dikaji oleh para spesialis kontrol gerak adalah kecepatan konduksi syaraf. Mengapa kecepatan stimulasi suatu serat otot lebih cepat pada sebagian orang atau pada kondisi tertentu.
Pembelajaran gerak adalah mengkaji mengenai proses yang tercakup dalam mendapatkan dan menyempurnakan keterampilan gerak. Karena keterampilan gerak didefinisikan sebagai gerakan-gerakan yang tergantung pada latihan dan pengalaman gerak, maka para spesialis pembelajaran gerak tertarik terutama pada pengaruh-pengaruh dari berbagai tipe situasi latihan, pengalaman, atau pembelajaran terhadap gerak manusia. Perkembangan gerak adalah suatu bidang studi akademis yang bersumber dari berbagai perilaku gerak. Perkembangan gerak sebagai perubahan perilaku gerak yang mencerminkan interaksi antara organisme yang telah matang dengan lingkungannya.
Jadi perilaku gerak memerlukan adanya koordinasi fungsional antara persyarafan dan otot serta fungsi kognitif, afektif, dan konatif. Dua macam perilaku gerak utama yang bersifat umum harus dikuasai oleh setiap manusia, yaitu: (a) berjalan dan memegang benda merupakan jenis keterampilan gerak dasar serta (b) bermain dan bekerja merupakan keterampilan gerak penunjang. perubahan perilaku gerak yang mencerminkan interaksi antara organisme yang telah matang dengan lingkungannya.
Jadi perilaku gerak memerlukan adanya koordinasi fungsional antara persyarafan dan otot serta fungsi kognitif, afektif, dan konatif. Dua macam perilaku gerak utama yang bersifat umum harus dikuasai oleh setiap manusia, yaitu: (a) berjalan dan memegang benda merupakan jenis keterampilan gerak dasar serta (b) bermain dan bekerja merupakan keterampilan gerak penunjang.

b.      Sasaran Perkembangan Motorik
Sasaran yang ingin dicapai dari proses perkembangan motorik pada manusia meliputi dua unsur, yaitu:
1.      Pengayaan Gerak
Secara alamiah jenis gerak ini sudah harus dimiliki oleh setiap manusia karena sangat berguna bagi proses perkembangan dan pertumbuhannya. Terdapat dua jenis gerak yang umum diperlukan manusia, yaitu: (a) gerak kasar dan (b) gerak halus.
Gerak kasar adalah suatu kemampuan yang ditampilkan individu dalam beraktivitas dominan dengan menggunakan otot-otot besarnya. Keterampilan menggunakan otot-otot besar ini bagi anak tergolong pada keterampilan gerak dasar. Keterampilan ini biasa dilakukan guna meningkatkan kualitas hidup. Keterampilan gerak dasar dibagi menjadi tiga katagori, yaitu:
a.      Keterampilan lokomotor artinya suatu kemampuan yang digunakan untuk memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain atau untuk mengangkat tubuh keatas seperti, lompat dan loncat. Kemampuan gerak lainnya yang termasuk lokomotor adalah berjalan, berlari, melompat, meluncur, dan lari seperti kuda berlari (gallop), dll. Keterampilan lokomotor sering digunakan dalam aktivitas sehari-hari karena sangat mendukung terhadap mobilitas hidup manusia. Tanpa kemampuan lokomotor yang memadai, aktivitas manusia seringkali terhambat dan hasilnya tidak optimal. Oleh karena itu, kemampuan ini harus terus dipelihara agar aktivitas hidup tetap terjaga.
b.      Keterampilan nonlokomotor adalah suatu kemampuan individu beraktivitas tanpa harus memindahkan posisi tubuh dari satu tempat ke tempat lainnya. Dengan kata lain aktivitas tersebut dilakukan ditempat, tanpa ada ruang gerak yang memadai. Kemampuan nonlokomotor terdiri dari menekuk dan meregang, mendorong dan menarik, mengangkat dan menurunkan, melipat dan memutar, mengocok, melingkar, melambungkan, dll. Meskipun ruang gerak tidak seluas gerak lokomotor, keterampilan nonlokomotor tetap diperlukan    dalam   kehidupaan manusia. Tanpa kemampuan nonlokomotor yang memadai, aktivitas manusia akan terhambat dan hasilnya tidak optimal. Memelihara kemampuan ini mutlak dilakukan dalam kehidupan manusia.
c.       Keterampilan manipulatif adalah kemampuan individu melakukan aktivitas dengan merekayasa obyek. Keterampilan ini diperlukan ketika individu tengah menguasai macam-macam obyek. Kemampuan manipulatif lebih banyak melibatkan tangan dan kaki, tetapi bagian lain dari tubuh kita juga dapat digunakan. Manipulasi obyek jauh lebih unggul daripada koordinasi mata-kaki dan tangan-mata, keterampilan ini cukup penting untuk mendukung kemampuan berjalan (gerakan langkah) dalam ruang. Bentuk-bentuk kemampuan manipulatif terdiri dari; gerakan mendorong (melempar, memukul, menendang), gerakan menerima (menangkap) obyek adalah kemampuan penting yang dapat diajarkan dengan menggunakan bola yang terbuat bantalan karet (bola medisin) atau macam: bola yang lain, dan gerakan memantul-mantulkan      bola      atau      menggiring       bola, dll. Tanpa kemampuan manipulatif yang memadai, aktivitas manusia seringkali terhambat dan hasilnya tidak optimal
Jadi, pada hakekatnya tujuan dari perkembangan gerak kasar adalah mampu meningkatkan keterampilan gerak, mampu memelihara dan meningkatkan kebugaran jasmani, mampu menanamkan sikap percaya diri, mampu bekerjasama, dan mampu berperilaku disiplin, jujur, dan sportif. Gerak halus adalah kemampuan individu beraktivitas dengan menggunakan otot-otot halus (kecil). Meskipun hanya menggunakan otot-otot halus, namun peranannya sangat utama diperlukan dalam berbagai aktivitas manusia. Banyak aktivitas manusia yang hanya menggunakan otot-otot halus, seperti: menulis, mengancingkan pakaian, meremas, menggenggam, menggambar, menyusun balok dan memasukkan bola golf, dll. Kesemua aktivitas ini sangat mendukung terhadap mobilitas manusia, oleh karena itu otot-otot halus yang ada pada tubuh kita harus dijaga agar tetap berfungsi optimal dalam bekerja dan berkarya.
Jadi, tujuan perkembangan gerak   halus     adalah   mampu memfungsikan otot-otot kecil seperti gerakan jari tangan, mampu mengkoordinasikan kecepatan tangan dengan mata, dan mampu mengendalikan emosi.

2.      Kesadaran Gerak
Kesadaran gerak adalah kemampuan   individu dalam mengendalikan aktivitas otot-otot dan syaraf yang ada pada tubuhnya. Dalam bergerak kita harus menyadari keberadaan diri kita dengan kondisi lingkungannya.  Kita harus memanfaatkan      indera,  mengontrol keseimbangan, mengenali ruang geraknya, memahami bagian-baian tubuh yang dapat digerakkannya. Untuk lebih rinci kesadaran gerak meliputi:
a.       Panca Indera merupakan alat yang digunakan untuk mengenali lingkungan di sekeliling kita sehingga dengan indera tersebut setiap manusia dapat berinteraksi secara baik.
b.      Keseimbangan adalah suatu keadaan seimbang antara tenaga yang berlawanan dengan menjaga pusat berat badan.
c.       Ruang adalah kemampuan memahami ruang eksternal sekitar kita dan memfungsikan gerak melalui ruang tersebut seperti lingkaran, segi tiga, segi empat, dan sebagainya.
d.      Tubuh artinya kemampuan untuk mengetahui dan memahami nama dan fungsi macam-macam bagian tubuh yang melekat pada diri kita seperti kaki, tangan, mata, telinga, dan sebagainya.
e.       Waktu artinya kemampuan menduga waktu kedatangan didasarkan pada ciri-ciri kecepatan jalannya bola, berat, dan jarak bola. Dengan kata lain kemampuan individu mengantisipasi sesuatu benda yang datang kepadanya.
f.        Arah artinya kemampuan memahami dan menerapkan konsep arah seperti atas, bawah, depan, belakang, dan sebagainya.
Jadi, unsur-unsur kesadaran gerak ini memiliki fungsi untuk mengoptimalkan tubuh dalam beraktivitas sehingga seluruh alat tubuh dapat termanfaatkan.














PENUTUP

1.     Kesimpulan
Anak  sedang berada pada masa pertumbuhan dan perkembangan yang memerlukan perhatian khusus. Anak pada usia sekolah mempunyai potensi yang sangat besar untuk mengoptimalkan segala aspek perkembangannya, termasuk perkembangan motoriknya. Artinya perkembangan motorik sebagai perkembangan dari unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh. Bagi anak usia dini memperoleh kemampuan untuk bergerak secara berurutan mengalami kemajuan dari mulai gerak sederhana hingga gerak yang lebih komplek dan keterampilan gerak yang terkoordinasi.

2.     Saran
Sebagai pendidik dan calon pendidik anak usia dini, bahkan bagi orang tua dan calon orangtua sebaiknya memahami hakikat perkembangan anak usia dini agar dapat memberikan stimulasi yang tepat pada anak sesuai dengan hakikat anak usia dini dan tahap perkembangannya. Makalah ini akan membantu para pembaca untuk memahaminya.












DAFTAR PUSTAKA

_______________., 1996. Developmental Physical Education for Today’s Children. Brown & Benchmark Publishers. USA

Aldoph, Karen E. (2011). Motor Development. New York’s University

Chaplin, J. P. (2010). Dictionary of psychology. Random House LLC.

De Oreo, K. and Keogh, J. Performance Of Fundamental Motor Tasks. In: C.B. Corbin (Ed.) A Textbook of Motor Development. 2nd edn. Wm. C. Brown Company, Dubuque; 1980: 76-91

Gallahue, David L., 1989, Understanding Motor Development: Infants, Children, Adolescents, Edisi ke dua, Benchmark Press, Inc., USA.

Hastuti. Psikologi Perkembangan Anak. Yogyakarta: Tugu Publisher, 2011.

Mahendra, Agus., & Yudha M. Saputra. (2006). Perkembangan dan Belajar Motorik. Universitas Terbuka

Roberton, M. A., & Halverson, L. E. (1988). The development of locomotor coordination: Longitudinal change and invariance. Journal of motor behavior,20(3), 197-241.

Comments

Popular posts from this blog

PANCASILA DAN AGAMA

Negara Hukum Dan HAM (Hak Asasi Manusia)

MAKALAH EKONOMI ISLAM